Kreasi (Cerpen Qu)

Ku Bersandar di Bahu Senja

Setiap senja datang aku selalu bertanya dalam hati, kenapa senja selalu muram….. apakah dia menyesali hari ini yang berlalu begitu cepat. Sama seperti penyesalan ku yang tak kan pernah dapat dijawab oleh fajar yang datang disetiap pagi.

Ketika manguku belum hilang, sebuah suara ngejutkanku “hana, ngapain kamu duduk disini sendirian?” belum sempat mulutku menjawab “kamu tidak pulang?, hari sudah hampir senja…” dengan sayup aku menjawab “sebentar lagi tin…” pandanganku seperti tak putus merayapi sinar jingga senja yang kian meredup, hingga gelap mulai menyelimuti. Satu per satu lampu jalan mulai menyala menemani iringan langkahku mengarah pulang. Jalan ini seperti semakin sempit dibenakku, mataku merayapi setiap sisi jalan yang mulai berembun dan tak terasa malam mulai mengembuskan angin dingin yang menusuk tulang. Ku amati jam tangan yang melingkar dilengan kananku “sudah jam 10 malam, pantas saja udara sudah mulai dingin” gumamku. Langkahku terus mengarah kesebuah perempatan jalan dimana aku biasa menunggu bis yang menuju kawasan tempat tinggalku.

Sebuah mobil Sedan hitam tiba-tiba berhenti didepanku, sedan itu terlihat seperti familier dimataku “Hana…. buat apa kamu masih diluar dijam segini, cepat naik” aku menatap kosong kearah pengemudi sedan yang memang sangat familier. Suara itu begitu ku kenang sedari ku masih duduk disekolah menengah, “Aku baru pulang kuliah, tadi ada urusan sebentar jadi pulangnya agak malam” jawab ku dengan sopan. “kalau begitu cepat naik , biar aku antar pulang” balasnya, “tidak usah repot-repot, aku biasa pulang dengan bis…. oya itu bisnya sudah datang” jawabku sambari menoleh ke belakang menunjuk bis yang datang ke kearahku. “kalau begitu saya duluan, permisi” aku menutup pembicaraan dan berlalu menuju bis tumpanganku.

Namun dari arah belakang sebuah tangan menarikku dari belakang “Hana… ini sudah larut, biar aku mengantarmu” suaranya terdengar sedikit memaksa, tanpa sempat menjawab dia sudah menarikku masuk ke mobillnya. Disepanjang perjalanan terasa begitu hening, tak sepatah katapun keluar dari mulut kami hingga mobil tersebut berhenti disebuah rumah makan. Aku terkejut menyadari ini adalah tempat dimana dulu aku biasa mengabiskan waktu sore dengan Bram, lelaki yang pernah menjadi kekasih ku dari SMU.

“Kenapa kamu membawaku kesini?” tanyaku denga suara yang bergemuruh.

“Kamu pasti lapar, lebih baik kita makan dulu nanti sakit mag mu kambuh, ini kan rumah makan favorite mu” jawabnya datar namun penuh keyakinan.

“Aku tidak lapar, antarkan aku pulang sekarang” Hatiku sangat kesal dengan sikapnya.

Seperti tidak menghiraukan apa yang aku katakan, dia membuka pintu mobil dan menarikku keluar. Aku mengentakkan tanganku yang membuatnya terkejut, “Kenapa? kenapa sikapmu tidak pernah berubah Bram? ini semua sudah berakhir, kenapa kamu membuka kembali luka yang dengan susah payah aku obati ini? kenapa? jawab Bram” aku mengeluarkan semua yang ada dalam benakku tanpa kusadari aku telah mengatakan hal yang mungkin akan aku sesali suatu saat nanti.

Bersambung………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s